Parenting Education "Menerima dengan cinta, Menemani dengan bangga"

Pada hari ini Sabtu, tanggal 31 bulan Januari 2026, bertempat di aula yayasan Raflesia, telaah di laksanakan kegiatan parenting education. Dengan Tema : "Menerima dengan cinta, Menemani dengan bangga" dengan  :
Nara sumber : Darleniana Septiani S.Spi,  
Moderator : Melly Heartya 
Peserta : Seluruh Wali murid TKIT Raflesia dan Undangan untuk umum. 

Kegiatan di buka dengan kepala sekolah (Ibu Fitria) yang mengingatkan tugas utama orang tua adalah menerima, menerima setiap keunikannya, menerima lambat dan cepatnya, dan menerima setiap emosi yg di keluarkan anak2. Dan menemani anak bukan hanya fisik nya saja tetapi hadir didalam setiap moment nya.

Menerima dengan Cinta, Menemani dengan Bangga

Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh belajar. Dalam perjalanan itu, sebagian orang tua dianugerahi anak-anak istimewa—anak yang hadir dengan cara tumbuh dan berkembang yang unik. Mereka bukan kurang, tetapi berbeda, dan perbedaan itu membutuhkan pemahaman, kesabaran, serta cinta yang lebih sadar.

1. Mengenali Anak Istimewa

Anak istimewa adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan dalam satu atau beberapa aspek, seperti fisik, intelektual, emosi, perilaku, maupun sensori. Kondisi ini membuat mereka membutuhkan cara belajar, pendekatan, dan dukungan yang berbeda dari anak pada umumnya.

Beberapa ciri dan kondisi yang termasuk dalam anak istimewa antara lain:

  • ASD (Autism Spectrum Disorder): kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang.

  • Slow Learner: kemampuan belajar di bawah rata-rata, membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi.

  • Kesulitan Belajar Spesifik:

    • Disleksia (kesulitan membaca)

    • Disgrafia (kesulitan menulis)

    • Diskalkulia (kesulitan berhitung)

  • ADHD: kesulitan memusatkan perhatian, impulsif, dan hiperaktif.

  • Gangguan Pendengaran: memengaruhi kemampuan komunikasi dan bahasa.

Mengenali kondisi anak sejak dini bukan untuk memberi label, melainkan sebagai langkah awal agar orang tua dapat memberikan dukungan yang tepat.

2. Peran Orang Tua sebagai Fasilitator

Orang tua adalah lingkungan pertama dan terpenting bagi anak. Pada anak istimewa, peran ini menjadi semakin krusial. Orang tua bukan hanya pengasuh, tetapi juga fasilitator tumbuh kembang anak.

Peran tersebut meliputi:

  • Mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak, dengan fokus pada kelebihan, bukan hanya keterbatasan.

  • Mencegah hambatan berkembang menjadi lebih berat, melalui pendampingan, terapi, dan stimulasi yang konsisten.

  • Menjaga rasa aman emosional anak, agar mereka tidak merasa kehilangan kasih sayang, kepercayaan diri, dan harga diri.

Ketika anak merasa diterima apa adanya, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga dan dicintai.

3. Kesimpulan: Orang Tua adalah Rumah Paling Aman

Menerima anak istimewa berarti menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Jangan membandingkan anak kita dengan anak orang lain, karena setiap anak memiliki garis start dan perjalanan hidup yang berbeda.

Tugas orang tua bukan menjadikan anak sempurna, tetapi menjadikan anak versi terbaik dari dirinya sendiri. Jadilah advokat bagi anak ketika banyak orang belum memahami kondisinya. Berdirilah di samping mereka saat dunia terasa tidak ramah.

Lebih dari itu, orang tua juga memiliki peran penting untuk mengedukasi lingkungan, agar masyarakat belajar memahami, menghargai, dan berempati pada anak-anak istimewa.

Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna—
mereka hanya membutuhkan orang tua yang menerima dengan cinta dan menemani dengan bangga.